Connect with us

Peristiwa Pembunuhan Ali Bin Abu Thalib

Umum

Peristiwa Pembunuhan Ali Bin Abu Thalib

Langkah berani dan tegas Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memerangi orang-orang Khawarij di Nahrawan menimbulkan dendam di kalangan para pemberontak ini. Hingga akhirnya muncullah peristiwa yang membuatkan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini menyandang syahid di akhir hayat.

Ibnu Jarir dan sejarahwan lainnya mengisahkan, ada tiga orang Khawarij berkumpul. Mereka adalah Abdurrahman bin Amr yang dikenal dengan Ibnu Muljam, Al-Barrak bin Abdullah, dan Amr bin Bakr. Mereka bercerita mengenang teman-teman mereka di Nahrawan.

Salah seorang di antara mereka berkata: “Apa yang kita lakukan sepeninggalan mereka? Mereka adalah sebaik-baik manusia yang paling banyak solatnya, mengajak manusia kepada Allah, tidak takut cemuhan orang-orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah. Bagaimana kalau kita tebus dengan mendatangi pemimpin-pemimpin yang sesat itu, kemudian kita bunuh mereka. Sehingga kita membebaskan negara dari kejahatan mereka dan kita balas kematian teman-teman kita.”

Ibnu Muljam berkata: “Aku akan membunuh Ali bin Abu Thalib.”
Al-Barrak bin Abdullah menyambut: “Aku akan membunuh Muawiyah bin Abu Sufyan.”
Dan Amr bin Bakr berkata: “Aku yang membunuh Amr bin al-Ash.”

Mereka berikrar, mengikat perjanjian untuk tidak mundur dari rancangan jahat itu sampai masing-masing berhasil membunuh sasarannya atau terbunuh dalam misi tersebut. Mereka hunuskan pedang sambil menyebut nama sasaran masing-masing. Operasi pembunuhan ini akan dilaksanakan pada 17 Ramadhan 40H. Berangkatlah tiga orang ini menuju para sahabat yang mulia itu.

Ibnu Muljam berangkat ke Kufah. Di sana dia menyembunyikan identitinya. Apabila sampai kepada kumpulan pemberontak yang dulu turut bersamanya di Perang Nahrawan, ketika itu pula hadir seorang wanita cantik, yang ayah dan kakaknya dikalahkan oleh pasukan Ali di Nahrawan. Namanya Qathami. Ibnu Muljam cuba meminangnya. Qathami mahu menerima pinangan itu dengan beberapa syarat, iaitu mahar tiga ribu dirham, seorang pembantu, budak wanita, dan membunuh Ali bin Abu Thalib. Ibnu Muljam berkata: “Engkau pasti mendapatkan syaratmu itu. Demi Allah, aku datang ke kota ini memang untuk tujuan membunuh Ali.”


Semakin dekat hari di mana Ibnu Muljam hendak melaksanakan misinya. Isterinya menyertakan pemuda dari kaumnya yang bernama Wardan untuk melindungi suaminya. Kemudian Ibnu Muljam merekrut Syabib bin Barjah yang juga merupakan veteran Perang Nahrawan. Masuk bulan Ramadhan, Ibnu Muljam mengetuai misi akan dilaksanakan pada tanggal 17 Ramadhan. Kumpulan Ibnu Muljam bergerak, ketiga-tiganya menghunuskan pedang bersembunyi di pintu yang menjadi tempat kebiasaan Ali keluar.

Ali keluar berteriak membangunkan masyarakat: “Solat!!.. Solat!!..” Ketika itulah dengan cepat Syabib menghayunkan pedangnya ke leher Ali dan Ibnu Muljam memukul kepala sahabat yang mulia ini. Darah Ali mengucur membasahi janggutnya. Ibnu Muljam berkata: “Tidak ada hukum kecuali milik Allah. Bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Dia membaca ayat:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya kerana mencari keredhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [Al-Baqarah: 207]

Ali berteriak: “Tangkap mereka!”

Pengawal terbunuh dalam kejar-mengejar, sementara Syabib berhasil meloloskan diri dan Ibnu Muljam tertangkap.

Akhirnya, Ali bin Abu Thalib menghembuskan nafas terakhir pada 21 Ramadhan 40H.

Di tempat lain, Al-Barrak menyabit Muawiyah yang sedang mengimamkan solat subuh. Muawiyah terluka. Tapi serangan itu tak sampai membunuhnya. Sementara Amr bin Bakr salah dalam sasarannya. Pada hari itu, Amr tidak dapat mengimamkan solat kerana sedang sakit. Imam penggantinya, Kharijah bin Abu Habib pun terbunuh. Ketiga-tiga Khawarij ini berjaya ditangkap dan dihukum mati.

Rujukan:
– Katsir, Ibnu. 2004. Terj. al-Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Darul Haq.
– Al-Khamis, Utsman bin Muhammad. Huqbah min at-Tarikh, Terj. Inilah Faktanya. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

+ Kisah Muslim
+ Baca Respon Pembaca di Facebook Oh! Media

Penulis sepenuh masa di Oh! Media. Mencipta Oh! Media sejak dari dalam perut mak lagi. Hi Awak!

Comments

Lagi dalam kategori Umum

To Top